KAKEK BADRUL DAN BENDERA MERAH PUTIH
LIA
MEMILIKI SEORANG KAKEK MANTAN PEJUANG 45. LIA DAN KELUARGA MERASA MALU TERHADAP
KELAKUAN KAKEK YANG TERLALU MENGISTIMEWAKAN BENDERA MERAH PUTIH. PADA SUATU
HARI TERJADI PERCEKCOKAN ANTARA KAKEK DAN KELUARGA. NAMUN, BERKAT PERISTIWA
ITU, KELUARGA TERSADAR AKAN KERASNYA PERJUANGAN MEREBUT MERAH PUTIH DARI TANGAN
PENJAJAH.
UNTUK
LEBIH JELASNYA MARILAH KITA IKUTI CERITA BERIKUT.
KAKEK
SELALU TERINGAT PERISTIWA KETIKA DIROBEKNYA BENDERA BIRU BELANDA YANG
MENYISAKAN WARNA MERAH PUTIH.
di
teras rumah kakek duduk terdiam mengingat peristiwa di atas
Kakek : (melihat
ke atas dan satu tangan memegang dada) terima kasih ya Allah, begiti besar
pertolonganMu kepada kami para pejuang saat merebut sang merah putih dari
sekutu! Hamba tidak akan pernah melupakan peristiwa itu.......
Cucu datang
membawakan bendera
Cucu : kek... ini bendera yang tadi kakek suruh
setrika (menyerahkan bendera).
Kakek : terima kasih cu... sekarang tanggal 10
Agustus cu ?
Cucu : iya kek...emang kenapa kek?
Hmmm...jangan
bilang kalo kakek mau pasang bendera ini sekarang !!! (wajah sedikit kesal)
Kakek : iya cu... kakek mau mngibarkan bendera ini,
seperti yang kakek lakukan tahun-tahun sebelumnya.
Cucu : aduh... kakekku sayang.. udah berapa kali
aku dan ibu mengatakan, jangan pasang benderanya jauh-jauh hari. Pas deket 17
agustus aja kek. Malu tau sama orang kampung !!! rumah kita selalu beda
sendiri.
Kakek : Ah kamu ini... omongan orang aja dipikirin.
Sudah.. pokoknya kakek mau pasang bendera ini..titik. (Bendiri)
DENGAN
WAJAH KESAL SANG CUCU MASUK KE RUMAH DAN MENGHAMPIRI IBUNYA YANG SEDANG ASYIK
MENYULAM. SEMENTARA KAKEK TETAP MELANJUTKAN MEMASANG BENDERA TANPA MEMPEDULIKAN
KEKESALAN CUCUNYA.
Cucu : iiiiih...ibu kok diama aja sih, ayooo
bu..ngomong ke kakek, pasang benderanya nanti aja !
Ibu : anakku...kamu seperti baru kenal kakek
saja. Setiap tahunkan selalu seperti ini. Apapun yang kita sampaikan kakek
tidak akan peduli.
Lia : tapi bu.. aku kan malu, malu sama
tetangga dan teman-teman disekolah, bahkan orang sekampung ini !
Ibu : sudahlah... sabar saja.
Lia : (cemberut,
menggerutu)
KETIKA
KAKEK SEDANG ASIK DENGAN BENDERANYA, DATANGLAH TEMANNYA CUCU.
Teman : hy kek...udah pasang bendera aja
nih.
Kakek :
iya..setiap tahun kan seperti ini.
Teman : (tertawa geli)..oh iya meli ada
kek ? aku mau mengembalikan buku nih.
Kakek :
ada tuh didalam lagi cemberut.
Teman : pasti cemberut karna kakek pasang
bendera ya.. he ...he...he
Ya
udah aku masuk dulu kek.
Fitrika berjalan menuju rumah dan
mengetuk pintu.
Teman : assalamualaikum meli...
Cucu :
bu..sepertinya itu teman aku...ah pasti ngetawain aku..
Ibu :
sudah sana..buka pintunya.
Cucu :
waalaikum salam (berjalan menuju pintu)..eh kamu ayo masuk
Teman : (bejalan menuju ruang tamu dan
menyalami ibu)
Ni
aku kembalikan buku yang ku pinjam kemaren. Eh mel kakekmu lucu ya, sayang
banget sama benderanya. Di elus-elus kayak sayang sama istri aja. He he he
Cucu : he he he (tertawa terpaksa)
Kakek berjalan menuju ruang tamu
Cucu : kakek kenalkan sama kakeknya fitrika? Dia
juga pejuang 45 dan kata fitrika pernah berjuang bersama kakek. Topi orangnya
biasa saja, tidak pernah menunjukkan atau memamerkan kalo dia dulunya seorang
pejuang.
Kakek : Hamid itu tentara tapi tidak pernah mengikuti
perang, dia itu tugasnya di bagian logistik. Jadi tahunya Cuma makanan sajaa...
bilang sama kakekmu fitrika kalo dia adalah tentara yang takut bedil.
Teman
: (menunduk)
Cucu : kakek... apa kakek tidak sadar kelakuan
kakek ini buat aku malu. Bendera lusuh kaya gitu aja diperlakukan seperti tuan
putri. Toh nanti tidak akan kakek bawa mati.
Ibu : tapi perkataan cucu bapak itu ada
benarnya. Bapak lama-lama memperlakukan bendera itu seperti meperlakukan benda
keramat saja ! lebih baik bapak menghabiskan waktu untuk beribadah..yaaah tapi
percuma kami ngomong, toh bapak ga bakalan peduli, yang ada dipikiran bapak
hanya bendera itu saja. Lama-lama lihat bapak makin tidak terkendali, nanti
bisa bisa orang sekampung anggap bapak tidak waras lagi.
Kakek : kamu ngawur.. kamu kira pikiran ku ini sudah
konslet.! Begitu haa? Kamu tidak pernah
ikut berjuang merebut negar dari penjajah. Makanya kamu bisa bicara seperti itu
! dulu kami harus mempertaruhkan hidup mati kami demi bangsa ini, semua kami
kerahkan sampai titik darah penghabisan.
Ibu : iya pak saya ngerti... kita boleh cinta
kepada negara dan bendera , ya tapi jangan berlebihan seperti ini. Saya takut
kalo...
Kakek : takut apa? Kamu takut aku gila begitu? Itu
kan yang ada di kepalamu! (berdiri dari duduknya)
Ibu : maaf pak bukan itu maksudku. Sudah bapak
duduk dulu. (menghampiru kakek). Saya kawatir kalo bapak mulai mengeramatkan
bendera, itu kan syirik!
Kakek : loh loh kamu makin ngawur saja, menuduh aku
musrik. Dengar..untuk merebut bendera ini, tidak gampang, banyak temanku yang
mati.. mati dibunuh penjajah. Teman-temanku harus mati karena mereka Cuma mau
mengibarkan selembar kain merah putih..jadi kalau aku mengistimewan bendera ini
bukan berarti aku menganggapnya keramat, apalagi menyembahnya, itu salah
besar!!!!
Ibu : lalu kenapa setiap tanggak 17 agustus
bapak selalu bersujud kemudian bedoa sambil mendekap bendera ?
Kakek : setiap melihat merah putih aku selalu
bersukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya
sepuas hatiku tanpa rasa takut dibunuh musuh. Demi Allah, untuk bendera aku
harus membunuh sesama manusia, membunuh saudara-saudaraku yang sama-sama
melawan penjajah, seperti pemberontak RMS, APRA....bahkan tanganku ini harus
membunuh pemberontak DI/TII. Padahal mereka adalah saudara-saudara ku. Mereka
harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka..!
kalian yang ada disi harusnya berterima kasih atas bukannya malah malu karena
aku sering mengibarkan bendera dan menyayanginya. Kalian harusnya malu karena
telah melupakan perjuangan para pahlawan yang telah berusaha merebut
kemerdekaan. Kemerdekaan yang kami rebut saat ini sudah memudar, kalian
kerjanya hanya berpoya-poya, yang tua, apalagi yang muda ! sudah tidak mau
memandang negeri sendiri, yang kalian tahu hanya negeri asing. Bukan kalian
yang malu, tapi aku yang kecewa dengan kelakuan kalian!!!! Ingatlah... ingat
bahwa kemerdekaan yang kalian rasakan ini adalah hasil pengorbanan kami.
(berjalan dengan perasaan kecewa menuju dapur).
Merenung...
Teman : aku merinding mendengar perkataan
kakek...kalo dipikir-pikir apa yang dikatakan kakek memang benar.. kemerdekaan
yang kita rasakan ini memang hasil perjuangan para pahlawan kita.
Ibu : iya naaak. Ibu merasa berdosa selama ini
selalu menentang yang dilakukan kakek. Bahkan tadi ibu menuduh kakek syirik..
astaqfirullahhalaziiim...(mengelus dada).
AKHIRNYA
SETELAH PERISTIWA TERSEBUT MEREKA SADAR BAHWA SELAMA INI MEREKA SALAH. SEMUA
YANG DILAKUKAN KAKEK HANYA MENGHARGAI PERJUANGAN MEREKA YANG SUDAH BERTUMABAH
DARAH MEREBUT BENDERA MERAH PUTIH DARI PENJAJAH.
TIDAK
LAMA SETELAH ITU TERDENGAR SUARA PIRING JATUH DARI DAPUR..
Ibu : astaqfirullah,,suara apa itu coba kalian
lihat !
Cucu dan teman berlari menuju dapur.
Cucu : ibuu... kakek jatuh
Cucu dan teman memapah kakek
ke ruang tamu
Ibu : astaqfirullah bapak..
Kakek : (terbata-bata
memanggil nama ibu)
Ibu : ayo tidurkan disini....
Kakek : sudah berapa hari ini aku merasakan ada yang
sakit di tubuhku ini, tapi sengaja aku tidak memberi tahu kalian. Aku merasa
umurku sudah tidak lama lagi.
cucu : kakeek..jangan ngomong begitu..
kakek : ini adalah hari terakir aku mengibarkan
bendera, setelah ini kalian tidak akan malu lagi.
Ibu : bapak..aku dan anak-anak menyesal selama
ini sudah menertawakan bahkan menuduh yang bukan-bukan. Kami menyesal pak.
Cucu
dan teman : iya kek..kami sangat menyesal...
Kakek : alhamdullilah..jika kalian sudah sadar. Aku
senang dan aku bisa pergi dengan tenang sekarang..karena ada kalian yang akan
melanjutkan perjuangan kami.
Cucu : kakek..jangan ngomong gitu....kakek ga akan
kemana-mana,,kita sama-sama yang akam melanjutkan perjuangan ini..
(suara hujan)
KakeK : cu.. sepertinya hujan, tolong
turunkan benderanya... kasihan kalau dibiarkan kehujanan.
Cucu : iya kek...(bergegas keluar rumah dan
menurunkan benderanya)
SETELAH
CUCU MENURUNKAN BENDERANYA, TERDENGAR SUARA IBUNYA DARI DALAM.
Ibu : bapaaaaaak.....
Cucu : kakek...(berlari menuju kakek)
SELESAI !!!
Komentar
Posting Komentar